
Oleh, Hery Sunaryo,SH.,MH
Pemerhati Politik Kota Balikpapan.
KabarIkn.com, Balikpapan - Terpilihnya kembali Dr.H.Rahmad Mas’ud, secara aklamasi sebagai nakhoda Golkar Balikpapan pada kamis 26 Februari 2026 menjadi penegasan hegemoni absolut di Kota Minyak. Kepercayaan ini berakar pada prestasi faktual selama periode pertama Rachmad Mas'ud, di mana ia berhasil mencatatkan rekor sejarah dengan mendongkrak perolehan kursi Golkar di DPRD dari 11 menjadi 16 kursi pada Pileg 2024. Dominasi ini semakin diperkuat dengan kemenangan meyakinkan sebesar 59,27 persen pada Pilkada Balikpapan yang membuktikan efektivitas mesin partai hingga ke akar rumput.
Di bawah komandonya Golkar diBalikpapan bertransformasi menjadi kekuatan linear yang menguasai eksekutif sekaligus legislatif dengan dukungan penuh dari struktur provinsi, sehingga menciptakan stabilitas politik yang nyaris tanpa hambatan dalam mengeksekusi kebijakan pembangunan strategis dikota Balilpapa. Namun di balik efisiensi pembangunan tersebut konsentrasi kekuasaan yang sangat terpusat pada satu figur dapat menciptakan tantangan serius bagi keseimbangan demokrasi dikota Balikpapan.
Sebagai penyeimbang NasDem kini muncul sebagai kekuatan kedua paling relevan dengan 7 kursi yang memiliki keleluasaan untuk mengambil jarak kritis demi menjaga tren elektoral mereka menuju 2029. Sementara itu Gerindra dengan 6 kursi tetap menjadi variabel kunci yang memiliki daya tawar tinggi di tengah konstelasi politik nasional dan daerah. Di sisi lain poros kritis tradisional yang dihuni PDI Perjuangan dan PKS tetap memegang peran krusial sebagai penjaga nalar publik terutama dalam menyuarakan isu-isu sektoral seperti krisis air bersih, banjir, kemacetan dan transparansi anggaran yang seringkali luput dari narasi besar keberhasilan pemerintah.
Dinamika politik ke depan akan sangat bergantung pada seberapa efektif partai-partai menengah ini melakukan konsolidasi lintas fraksi untuk mengimbangi target ambisius Golkar yang ingin merebut 50 persen kursi DPRD pada 2029. Jika NasDem bersama PDI Perjuangan dan PKS mampu membentuk blok koordinatif dengan total 14 kursi maka mereka memiliki kekuatan yang cukup untuk memaksa adanya uji publik terhadap setiap kebijakan eksekutif. Tanpa koalisi taktis tersebut politik Balikpapan akan terus bergerak dalam ruang tunggal yang sepenuhnya ditentukan oleh arah kebijakan satu partai.
Tugas besar Rahmad Mas’ud dalam periode kedua ini adalah membuktikan bahwa mayoritas mutlak yang diraihnya bukan sekadar untuk memperkuat cengkeraman politik kelompok tertentu melainkan benar-benar untuk mengakselerasi kesejahteraan warga yang aspirasinya seringkali merasa tersumbat oleh dominasi birokrasi dan parlemen.(*)
