[Valid RSS]

Oleh: Hery Sunaryo, SH., MH. Praktisi hukum / pemerhati kebijakan Anggaran Publik Kaltim

KabarIkn.com,Balikpapan - Mari kita bedah realitas negeri ini dengan mata telanjang, tanpa eufemisme, dan tanpa basa-basi birokrasi. Indonesia adalah negara yang kaya Sumber Daya Alam, minyak mengalir di dalam perutnya, serta emas, nikel, dan batu bara berkilau di setiap jengkal tanahnya, perkebunannya banyak yang mengatakan diperhitungkan dan mendominasi perdagangan pasar dunia, seperti kelapa sawit (CPO), karet, kopi, kakao, dan rempah-rempah. 

Hutannya yang disebut- sebut sebagai paru-paru dunia, kelautannya yang dikenal jauh lebih luas daripada daratannya, yang konon menghasilkan devisa besar melalui ekspor produk perikanan rumput laut, dan didukung oleh jasa logistik kapal dan pelayaran. 

Hasil dari sektor aktivitas jasa dan induatry di Indonesia dikenal sebagai Produk Domestik Bruto (PDB) yang dihasilkan oleh berbagai industri. Konon sektor ini telah mendominasi perekonomian nasional, memberikan sumbangan lebih dari 52% hingga 59% terhadap PDB, dan menjadi roda penggerak utama produktivitas tenaga kerja. 

Namun berlimpahnya SDA di Indonesia, ada paradoks besar yang menampar logika kita mengapa negara yang mengklaim dirinya kaya raya SDA ini justru bertahan hidup seperti seorang pengemis yang memaksa rakyatnya patungan?

Jika kita membuka postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), di sana tertulis angka yang memalukan bagi sebuah negara kaya SDA. Sekitar 80 persen napas dan darah negeri ini ditiup oleh keringat pajak rakyat. Gaji Anda dipotong bahkan sebelum sempat Anda nikmati melalui pajak PPH, kendaraan Anda didenda tanpa ampun jika telat sehari membayar pajak, dan dari sebungkus mi instan hingga belanja bulanan untuk konsumsi hari- hari, semua diperas oleh pajak PPN.

Sementara itu, kekayaan alam yang diagung- agungkan di buku pelajaran sekolah hanya mampu menyumbang kisaran 20 persen melalui Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

Kondisi ini ibarat sebuah keluarga yang memiliki perkebunan kelapa sawit seluas ratusan hektar, namun untuk makan sehari-hari dan membayar listrik, sang ayah justru memotong uang jajan anak-anaknya secara paksa hingga 80 persen, sementara hasil panen kebun sawit yang melimpah ruah entah mengalir ke kantong siapa. Ini bukan pengelolaan, melainkan eksploitasi domestik. 

Tragisnya, dari uang perasan keringat rakyat inilah gaji para pejabat dibayar tepat waktu, tiket pesawat bisnis mereka dipesan, dan fasilitas mewah mereka dirawat tanpa cela. Kita, pemilik sah republik ini, dipaksa menjadi donatur tetap demi menjamin pelayan publik hidup jauh lebih mewah daripada majikannya.

Kita semua hafal luar kepala mantra suci Pasal 33 UUD 1945 yang menyatakan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar- besar kemakmuran rakyat. Namun di dalam hukum pidana dan tata negara kita hari ini, roh pasal itu telah mati. Melalui gurita regulasi yang sengaja dibuat rumit dan transaksional, frasa "dikuasai negara" telah didegradasi maknanya menjadi sekadar "negara pemberi stempel izin".

Negara tidak bertindak sebagai pemilik atau pengelola kekayaan alam, melainkan bertindak mirip tak lebih dari sekadar "centeng" atau "broker" yang membagi-bagi kapling izin kepada korporasi raksasa dan oligarki. 

Ketika gunung-gunung dikeruk dan hutan dibabat hingga hancur, keuntungan raksasanya langsung terbang ke rekening privat di luar negeri, sementara negara hanya kebagian royalti recehan yang tidak cukup untuk memperbaiki kerusakan lingkungan yang ditinggalkan. Inilah dampak nyata dari *Resource Curse* atau kutukan sumber daya alam, di mana kelimpahan alam membuat mentalitas penguasa menjadi malas.

Selama berpuluh-puluh tahun, kita gagal membangun industri manufaktur dan hilirisasi yang mandiri karena hanya tahu mengeruk tanah, menjual batu mentah ke luar negeri, lalu membelinya kembali dengan harga berkali-kali lipat setelah menjadi barang jadi. Lalu, apa yang terjadi ketika sistem yang bobrok ini gagal, serta ketika kas negara tiris akibat korupsi tambang ilegal dan anjloknya harga komoditas global?

Penguasa tidak pernah mengevaluasi diri, melainkan mengambil jalan pintas yang paling praktis dengan menoleh dan mempajaki rakyat.Objek pajak baru diperluas secara agresif, tarif PPN terus dinaikkan tanpa memperdulikan daya beli yang sekarat, dan rakyat diburu dengan regulasi kepatuhan yang intimidatif. 

Sebaliknya, terhadap para penjarah alam, penyelundup komoditas, dan mega koruptor, hukum kita mendadak ramah, penuh kompromi, dan menderita rabun dekat yang akut.

Secara hukum anggaran, seluruh pendapatan negara baik dari pajak maupun hasil bumi dilebur menjadi satu dalam Kas Negara sebelum dibelanjakan, dan di sinilah letak cacat moral terbesarnya. Hukum keuangan kita terlampau toleran terhadap syahwat kemewahan birokrasi.

Belum ada aturan hukum yang cukup waras dan tegas untuk membatasi bahwa anggaran operasional, perjalanan dinas, dan fasilitas pejabat tidak boleh melampaui batas kepantasan di tengah kemiskinan rakyat. Rakyat dipaksa melakukan ikat pinggang, sementara pejabat terus memperlonggar ikat pinggang mereka demi menampung fasilitas negara

Pajak yang sejatinya bertujuan untuk menciptakan efek keadilan mengambil dari yang kaya untuk menyubsidi yang miskin kini fungsinya terbalik secara ekstrem. Pajak hari ini adalah alat untuk mensubsidi kegagalan negara dalam mengamankan kekayaan alamnya sendiri.

Indonesia tidak pernah kekurangan harta, kita hanya sedang mengalami kebangkrutan moral penegakan hukum untuk merebut kembali hak rakyat atas hasil buminya, serta krisis empati akut dari mereka yang duduk di kursi kekuasaan. 

Selama hukum kita masih memanjakan para pengeruk alam dan gemar membebankan pungutan pada rakyat kecil, maka Pasal 33 UUD 1945 tidak lebih dari sekadar puisi mati di atas kertas usang. Sementara rakyat harus tetap bangun sebelum subuh, menembus kemacetan, dan memeras keringat hingga kering, bukan untuk memakmurkan anak cucu mereka, melainkan untuk membiayai kemewahan gaya hidup para penguasa negara.

KabarIkn.com,BALIKPAPAN — Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Balikpapan menggelar kegiatan buka puasa bersama yang dirangkaikan dengan pembagian takjil kepada masyarakat, Sabtu (14/3/2026).

Kegiatan diawali dengan aksi berbagi takjil kepada para pengendara yang melintas di sekitar Sekretariat PWI Balikpapan di Jalan Martadinata, Kelurahan Telaga Sari, Kecamatan Balikpapan Kota.

Ketua PWI Kota Balikpapan, Debi, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu agenda dalam rangka menyemarakkan bulan suci Ramadan sekaligus mempererat tali silaturahmi antaranggota.

“Melalui kegiatan ini kami ingin memperkuat kebersamaan di antara anggota PWI Balikpapan serta menumbuhkan kepedulian sosial dengan berbagi kepada masyarakat, khususnya para pengendara yang melintas,” ujarnya.

Ia menuturkan, kegiatan berbagi takjil yang dilanjutkan dengan buka puasa bersama tersebut juga menjadi momen bagi para jurnalis untuk semakin mempererat hubungan di tengah kesibukan menjalankan tugas peliputan.

Debi juga menyampaikan apresiasi kepada sejumlah pihak yang telah memberikan dukungan sehingga kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik.

Beberapa perusahaan yang turut mendukung kegiatan tersebut antara lain Pertamina EP, Pertamina Hulu Mahakam, Kilang Pertamina Balikpapan, Kilang Pertamina Internasional, serta Pertamina Patra Niaga.

“Dukungan dari berbagai pihak sangat berarti bagi terselenggaranya kegiatan ini, sehingga PWI Balikpapan dapat berbagi kebahagiaan dengan masyarakat selama Ramadan,” katanya.

Melalui kegiatan tersebut, PWI Balikpapan berharap semangat kebersamaan dan kepedulian sosial dapat terus terjaga, baik di kalangan insan pers maupun masyarakat luas selama bulan suci Ramadan.(*)

KabarIkn.com,KOTIM - Komandan Korem (Danrem) 102/Panju Panjang, Brigjen TNI Wimoko, pimpin upacara serah terima jabatan (Sertijab) sejumlah pejabat di lingkungan Korem 102/Pjg yang dilaksanakan di Makorem 102/Pjg, Jalan MT Haryono, Mentawa Baru Hulu, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Kalimantan Tengah (Kalteng), Rabu (6/5/2026).

Sejumlah pejabat utama yang dirotasi itu adalah Kepala Staf Korem (Kasrem) 102/Pjg, Kepala Seksi Intelijen (Kasiintel) Kasrem 102/Pjg, serta Kepala Seksi Perencanaan (Kasiren) Korem 102/Pjg.

Danrem 102/Pjg, Brigjen TNI Wimoko dalam amanatnya mengatakan, rotasi dan mutasi jabatan di lingkungan TNI AD merupakan hal yang wajar dan merupakan bagian dari pembinaan organisasi serta pengembangan karier prajurit. 

"Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kinerja satuan agar semakin profesional, responsif, dan adaptif terhadap dinamika tugas yang terus berkembang," kata Brigjen TNI Wimoko.

Kepada Kolonel Inf Jajang Kurniawan dan Kolonel Czi Sri Haryoko, tambah Wimoko, dirinya mengucapkan terima kasih atas pengabdian dan dedikasinya selama ini sebagai Kasrem 102/Pjg dan Kasiren Korem 102/Pjg. 

"Selanjutnya, saya ucapkan selamat bertugas dalam jabatan yang baru sebagai Dirbindik Pussenif dan Pamen Ahli Bid. Ilpengtek dan LH Sahli Pangdam XXII/TB," ujarnya.

Kepada pejabat Kasiren Korem 102/Pjg dan Kasi Intel Kasrem yang baru, Letnan Kolonel Inf Ahmad Sobirin dan Letnan Kolonel Inf Alber Inkriwang, beserta istri, lanjut Wimoko, dirinya mengucapkan selamat bertugas, dan selamat atas kepercayaan yang diberikan. 

"Segera menyesuaikan diri dengan lingkungan tugas yang baru, pahami karakter wilayah, serta laksanakan tugas dengan penuh dedikasi dan loyalitas. Saya berharap para pejabat baru dapat membawa inovasi serta semangat baru demi kemajuan satuan," tutupnya.

Dengan dilaksanakannya kegiatan ini, diharapkan dapat semakin memperkuat soliditas dan profesionalisme prajurit Korem 102/Pjg dalam mendukung tugas pokok TNI AD di wilayah Kalimantan Tengah. (*)

KabarIkn.com,Balikpapan - 11 Maret 2026, Bulan Ramadan menjadi momentum refleksi untuk memperkuat nilai kebersamaan, integritas, dan kebermanfaatan. Dalam semangat tersebut, Apical menekankan pentingnya membangun komunikasi yang terbuka serta dialog konstruktif mengenai peran industri kelapa sawit dalam kehidupan sehari-hari.

Semangat ini tercermin dalam pertemuan Apical dengan insan pers di Balikpapan, Kalimantan Timur, yang berlangsung dalam suasana buka puasa bersama. Kegiatan ini menjadi wadah bagi perusahaan dan media untuk bertukar pandangan mengenai perkembangan industri kelapa sawit serta kontribusinya bagi masyarakat dan perekonomian lokal. 

Head of Corporate Communications Apical, Prama Yudha Amdan, menyampaikan bahwa Ramadan merupakan momen refleksi untuk terus menghadirkan kebermanfaatan dan menjaga integritas dalam setiap langkah.

“Ramadan mengajarkan kita tentang kebermanfaatan dan integritas, melakukan yang benar bahkan ketika tidak ada yang melihat,” ujarnya. 

Dalam kesempatan tersebut, Yudha juga menyampaikan bahwa kelapa sawit kini berkembang menjadi berbagai produk bernilai tambah yang menghadirkan manfaat luas.

“Kelapa sawit telah berkembang menjadi berbagai produk bernilai tambah. Oleokimia hadir untuk memenuhi beragam kebutuhan sehari-hari, functional fats mendukung industri pangan, dan energi terbarukan, termasuk Sustainable Aviation Fuel, menjadi bagian dari solusi transisi energi. Manfaatnya kini menjangkau semakin luas — dari dapur rumah tangga hingga bahan bakar pesawat,” jelasnya. 

Beragam manfaat tersebut juga menuntut pengelolaan yang bertanggung jawab serta tata kelola yang kuat di sepanjang rantai pasok. Di Apical, komitmen itu diwujudkan melalui rantai pasok yang terintegrasi dan berkelanjutan, mulai dari pengadaan baku, proses pengelolaan, inovasi produk, hingga pengembangan energi terbarukan. Perusahaan meyakini bahwa kebermanfaatan hanya akan bermakna jika dikelola dengan integritas. 

“Karena pada akhirnya, kelapa sawit bukan cuma minyak. Ia adalah manfaat yang dikelola dengan tanggung jawab, untuk hari ini dan untuk masa depan,” tambah Yudha. 

Di acara yang sama, Manager General Affairs PT Kutai Refinery Nusantara (PT KRN), unit bisnis Apical, Randy Suwenli, menambahkan bahwa prinsip tanggung jawab dalam pengelolaan industri kelapa sawit juga diwujudkan melalui berbagai inisiatif perusahaan yang berfokus pada sumber daya berkelanjutan.

“Salah satu upaya yang baru-baru ini dilakukan adalah melalui program pemanfaatan FABA atau Fly Ash dan Bottom Ash, yaitu material yang dihasilkan dari proses pembakaran batu bara pada pembangkit listrik tenaga uap. Pembangkit listrik milik PT KRN ini telah beroperasi sejak tahun 2021, dan material yang dihasilkan dari proses tersebut memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali”, jelas Randy.

Melalui program ini, FABA dimanfaatkan menjadi produk bernilai ekonomis seperti batako dan paving block. Pengelolaannya juga dengan melibatkan masyarakat di sekitar untuk mengolah material tersebut menjadi produk yang tidak hanya memiliki nilai guna, tetapi juga memberikan nilai ekonomi.

Inisiatif ini menjadi salah satu contoh bagaimana Apical menerapkan prinsip tanggung jawab dalam kegiatan operasionalnya sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat. Komitmen ini sejalan dengan filosofi 5C Apical — Good for the Community, Good for the Country, Good for the Climate, Good for the Customer, dan Good for the Company, yang menempatkan kebermanfaatan dan tanggung jawab sebagai bagian dari setiap langkah perusahaan. Melalui filosofi ini, Apical menegaskan komitmennya untuk terus mendorong praktik kelapa sawit berkelanjutan, serta memastikan setiap produk yang dihasilkan memiliki nilai tambah, dikelola secara bertanggung jawab, dan memberikan kontribusi positif bagi lingkungan serta komunitas sekitar.(*)

KabarIkn.com,Balikpapan – Upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor. Salah satunya terlihat dalam kegiatan sosialisasi yang melibatkan puluhan wartawan di Aula Kelurahan Telaga Sari, Kecamatan Balikpapan Kota, Selasa (28/4/2026).

Kegiatan ini digagas oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kota Balikpapan bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Balikpapan, sebagai bentuk sinergi dalam meningkatkan peran media.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DP3AKB Balikpapan, Nursyamsiarni Djufril Larose, yang membuka acara, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut didukung melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA).

Dalam pemaparannya, ia menyoroti tren kasus kekerasan yang masih menjadi perhatian, dengan korban yang sebagian besar merupakan perempuan dan anak, khususnya anak perempuan. Karena itu, menurutnya, media memiliki posisi strategis dalam membangun kesadaran publik.

“Penyampaian informasi yang tepat melalui media menjadi bagian penting dari upaya pencegahan. Edukasi kepada masyarakat harus terus diperkuat,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa berbagai langkah telah dilakukan untuk meningkatkan pelayanan, seperti pelaksanaan forum perangkat daerah, konsultasi publik terkait Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga), hingga Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama DPRD Kota Balikpapan dalam evaluasi kinerja tahun 2025.

Menurutnya, keterlibatan media sangat dibutuhkan karena pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam menangani persoalan tersebut. Peran wartawan dinilai penting sebagai mitra dalam menyampaikan informasi yang bersifat edukatif dan membangun.

Sementara itu, Sekretaris PWI Kota Balikpapan, Muhammad Maulana, menyampaikan bahwa kolaborasi ini merupakan langkah positif dalam mendukung upaya perlindungan perempuan dan anak.

“Kerja sama seperti ini diharapkan terus berlanjut, apalagi Balikpapan memiliki komitmen sebagai Kota Layak Anak,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut turut hadir Kasubbid Penmas Bidhumas Polda Kaltim Musliadi Mustafa serta Herry Trunajaya, wartawan senior PWI Balikpapan, yang menjadi narasumber.

Diketahui, Balikpapan telah meraih penghargaan Kota Layak Anak (KLA) kategori Utama pada 2025 dengan nilai 891. Pemerintah kota pun menargetkan peningkatan ke kategori Paripurna pada 2026 melalui penguatan pemenuhan hak anak, penyediaan Ruang Bermain Ramah Anak (RBRA), serta peningkatan aspek keamanan.

Melalui kolaborasi ini, diharapkan media dapat semakin optimal dalam menyebarkan edukasi kepada masyarakat sekaligus membantu menekan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak.(*)

Foto : Salah satu sumur tua di Kalimantan Timur. (HO/Beritakaltim)

KabarIkn.com,Balikpapan - Menyambut Hari Pers Nasional (HPN) tanggal 9 Februari, insan pers di Kalimantan Timur mengadakan acara "Temu Bisnis" menghadirkan sejumlah narasumber dari Kementerian ESDM, Pertamina dan SKK Migas.

Dipilihnya acara bertema ekonomi, menurut penanggungjawab acara, Charles Siahaan, sebagai bagian dari partisipasi insan pers Kalimantan Timur menggairahkan perekonomian daerah. 

"Acara kali ini membahas sumur-sumur tua dan idle yang jumlahnya ratusan dan masih memiliki nilai ekonomis untuk dikelola," ucap Charles yang juga Pemred Beritakaltim.co, Rabu (28/1/2026).

Berdasarkan Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 14 Tahun 2025, sumur-sumur tua dibuka kesempatan kepada pengusaha lokal, Perusda, koperasi dan Bumdes, UMKM untuk mengeksploitasinya. 

"Peraturan itu sudah turun, tapi kok pengusaha lokal belum berani berbisnis sektor ini," ucap Charles.

Karena itu, pers sebagai fungsi kontrol sosial dan juga edukasi, mengambil prakarsa membahas kebijakan tersebut. 

"Pengusaha di Kaltim bertanya-tanya, apa bisa mereka menjadi pengelola sumur-sumur tua itu. Bagaimana cara memulainya, berapa modalnya?" ucapnya lagi.

Acara "Temu Bisnis Sumur Tua" digelar dengan kolaborasi Pemprov Kaltim, SKK Migas Kalsul, Pertamina dan perusda-perusda. Sesuai agenda awal, acara digelar 10 Februari 2026 di Gedung Odah Etam Komplek Kantor Gubernur Kaltim Jalan Gajah Mada Samarinda.

Narasumber yang diundang untuk hadir, pertama Dirjen Migas Kementerian ESDM. Kemudian Manajer PT Pertamina Hulu Energi (PHE) dan dari SKK Migas.

Diundang juga pakar geologi Andang Bachtiar serta seorang pengusaha daerah di Cepu Jawa Tengah yang sudah berpengalaman dan berhasil mengelola sumur migas tua. 

"Kita ajak juga kawan-kawan pers menyemarakkan kegiatan ini. Karena ini adalah kontribusi insan pers dalam mendukung pemerintah mengangkat perekonomian di desa-desa," tutupnya.(*)

KabarIkn.com,BALIKPAPAN — Semangat berbagi di bulan suci Ramadan kembali ditunjukkan para jurnalis di Kota Balikpapan. Sejumlah wartawan yang tergabung dalam Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Balikpapan menggelar kegiatan berbagi bingkisan kepada para penyandang tunanetra, Sabtu (14/3/2026).

Kegiatan yang berlangsung sederhana namun penuh kehangatan ini menjadi momen silaturahmi antara insan pers dan penyandang tunanetra yang tergabung dalam Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Kota Balikpapan. Bingkisan tersebut diserahkan langsung oleh Ketua PWI Kota Balikpapan, Debi, kepada perwakilan pengurus Pertuni Balikpapan, Salman.

Debi mengatakan, kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian sekaligus wujud kebersamaan PWI Balikpapan dengan masyarakat, khususnya para penyandang tunanetra, di momentum Ramadan yang identik dengan semangat berbagi.

“Kami memberikan bantuan ini sebagai bagian dari silaturahmi PWI Kota Balikpapan kepada penyandang tunanetra. Momentum Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk saling berbagi dan mempererat kebersamaan,” ujarnya.

Ia menegaskan, bantuan yang diberikan mungkin tidak besar, namun diharapkan dapat membawa manfaat dan kebahagiaan bagi para penerima.

“Jangan dilihat dari seberapa besar pemberian yang diberikan. Ini adalah bentuk kepedulian kami untuk berbagi,” katanya.

Debi juga berharap kegiatan sosial seperti ini dapat menginspirasi berbagai pihak untuk turut menumbuhkan rasa empati dan kepedulian terhadap sesama, terutama kepada kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian lebih.

Sementara itu, perwakilan pengurus Pertuni Kota Balikpapan, Salman, menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian yang diberikan para jurnalis PWI Balikpapan kepada penyandang tunanetra.

Menurutnya, bantuan tersebut menjadi bentuk dukungan moral yang sangat berarti bagi para penyandang disabilitas netra.

“Ini merupakan bantuan yang kedua kami terima. Sebelumnya kami juga mendapatkan bantuan dari Pak Rahmad selaku Wali Kota Balikpapan,” ujarnya.

Salman berharap kepedulian yang ditunjukkan PWI Balikpapan dapat menjadi contoh bagi pihak lain untuk turut berbagi dan memberikan perhatian kepada penyandang tunanetra.

“Semoga langkah baik ini bisa diikuti oleh yang lain, sehingga semakin banyak yang peduli dan membantu,” harapnya.(*)

KabarIkn.com,Balikpapan – Minggu (14/12/2025), Suasana hangat dan penuh nostalgia mewarnai kegiatan Coffee Morning Back to School 90’s BPN yang digelar hari ini di Kota Balikpapan. Acara ini berhasil menarik antusiasme para penggemar mobil lawas, khususnya pecinta Toyota Starlet, serta komunitas pengguna mobil tua lainnya.

Dwie Meynina yang hadir mewakili Tim Ngopi Kaltim Starlet mengungkapkan rasa senangnya dapat ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, acara ini berlangsung sangat ramai dan menjadi momentum berkumpulnya para penggemar serta pengguna mobil-mobil lawas yang selama ini aktif di berbagai komunitas.

“Senang sekali bisa diundang ke acara Back to School 90’s Balikpapan ini. Tidak hanya sekadar rutinitas kegiatan Tim Ngopi Kaltim yang biasanya berlangsung setiap tiga bulan, tapi di sini kami bisa benar-benar berkumpul, bersilaturahmi, dan semakin mempererat kekompakan,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi atas undangan yang diberikan kepada Tim Opikal Tim, yang dinilainya sangat menikmati suasana kebersamaan dalam acara tersebut. Dwie berharap ke depan, komunitas-komunitas otomotif yang ada di Balikpapan, khususnya Tim Ngopi Kaltim dan Opikal Tim, dapat semakin solid dan saling membantu satu sama lain.

“Secara pribadi saya senang berada di komunitas ini, karena para anggotanya ramah dan saling membantu, termasuk dalam hal perawatan mobil,” tambahnya.

Melalui kegiatan ini, Dwie berharap akan semakin banyak acara serupa yang digelar ke depannya, tidak hanya untuk komunitas Starlet, tetapi juga bagi para pecinta mobil tua lainnya, sebagai wadah silaturahmi dan pelestarian budaya otomotif klasik di Balikpapan.(bs)