
KabarIkn.Com,Paser-SALAH satu penentu sukses atau tidaknya implementasi sebuah kebijakan ialah seberapa besar partisipasi masyarakat. Pun demikian dengan kebijakan pemerintah untuk menerapkan tatanan normal baru di tengah pandemi covid-19 yang masih menyandera bangsa ini.
Tatanan normal baru atau new normal ialah pilihan rasional. Ia, mau tidak mau, suka tidak suka, harus dijalani karena sampai detik ini belum diketahui kapan ekspansi covid-19 akan usai.
Kita jelas tidak mungkin terus menunggu dalam ketidakpastian, sementara ekonomi harus kembali menggeliat demi menopang kehidupan rakyat.
Di era new normal, kita bisa tetap menjalankan aktivitas normal, tapi mesti membarenginya dengan penerapan protokol kesehatan untuk mencegah penularan covid-19 Di sini, perubahan perilaku menjadi kunci.
Namun, tatanan normal baru juga punya risiko besar. Jika penerapannya sembarangan, ia bisa menjadi bumerang. Jika masyarakat abai dengan rambu-rambu yang ditentukan, ia dapat meninggikan kembali tingkat penularan. Jika pemerintah tak tegas, ia membuka peluang terjadinya penjajahan virus gelombang kedua.
Penerapan tatanan normal baru pantang gampangan. Sejumlah kriteria ketat yang telah ditetapkan mutlak dipatuhi tanpa ada kompromi.
Tiga indikator utama untuk menilai kesiapan daerah, yaitu gambaran epidemiologi, surveilans kesehatan masyarakat, dan pelayanan kesehatannya, harus dijadikan dasar yang tak bisa ditawar-tawar.
Penilaian superketat sebelum memperbolehkan daerah memasuki era normal baru bisa menjadi langkah awal yang baik. _Namun, hal itu masih jauh dari cukup_.
Pemberlakuan kebijakan itu perlu dukungan masyarakat secara total karena merekalah yang akan menjalaninya nanti * .