
KabarIkn.com,BALIKPAPAN — Permasalahan distribusi air bersih di Kota Balikpapan kembali menjadi perhatian Komisi II DPRD. Sejumlah warga masih mengeluhkan aliran air yang tidak lancar, bahkan kerap mengalami gangguan hingga kualitas air yang kurang baik di beberapa wilayah.
Anggota Komisi II DPRD Balikpapan, Swardy Tandiring, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai upaya pengawasan, mulai dari rapat dengar pendapat (RDP) hingga inspeksi langsung ke lapangan, termasuk di kawasan Kilometer 13 dan titik distribusi lainnya.
“Kami sudah melakukan RDP dan turun langsung untuk melihat kondisi di lapangan,” ujarnya, Jumat (17/4/2026).
Dari hasil peninjauan tersebut, DPRD menilai persoalan utama bukan pada proses pengolahan air, melainkan pada sistem distribusi. Infrastruktur yang sudah menua, tekanan air yang rendah, serta aliran yang tidak stabil menjadi kendala utama yang ditemukan.
“Masih ada daerah yang alirannya tidak lancar, bahkan bisa mati tanpa pemberitahuan,” katanya.
Beberapa wilayah seperti Gunung Sari dan Kilometer 13 disebut sebagai lokasi yang paling sering mengalami gangguan. Kondisi ini memaksa warga untuk menampung air saat mengalir atau membeli air tambahan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Selain persoalan teknis, DPRD juga menyoroti kurangnya informasi kepada masyarakat saat terjadi gangguan layanan. Swardy menegaskan bahwa komunikasi dari pihak terkait harus diperbaiki agar masyarakat dapat bersiap menghadapi kondisi tersebut.
“Kalau ada perbaikan atau gangguan, harus diinformasikan lebih awal. Jangan sampai warga tidak tahu dan tiba-tiba air mati,” tegasnya.
Komisi II DPRD Balikpapan memastikan akan terus mengawal peningkatan layanan air bersih, baik melalui perbaikan infrastruktur maupun sistem komunikasi. Harapannya, distribusi air di seluruh wilayah kota dapat berjalan lebih merata dan optimal.
“Kami akan terus mendorong perbaikan agar masyarakat tidak lagi kesulitan dalam mendapatkan air bersih,” pungkasnya. (t/adv)