Pencemaran yang terjadi di sungai Segah, diduga adanya percumbuan antara pupuk sawit dan air sungai sehingga menyebabkan kekurangan oksigen yang membuat ikan pada mati
BERAU-Pencemaran air sungai Segah beberapa pekan lalu, yang membuat air sungai Segah berubah warna hijau alias berwarna jernih, masih terus dipantau oleh instansi terkait.

Diantaranya, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Berau, PDAM Tirta Segah Berau,
dan Pemerintah Kabupaten Berau, hingga lainnya.
Menurut Kepala DLHK Berau, Sujadi Menyampaikan perkembangan saat ini, beberapa hari lalu, mengatakan kami mendapat informasi dari PDAM Tirta Segah, pada 9 November 2019, air sungai Segah sudah mulai bercak-bercak segala macam dan ada Koagulan (bahan kimia yang dibutuhkan untuk membantu proses pengendapan partikel – partikel kecil yang tidak dapat mengendap dengan sendirinya), hingga lumpur, tetapi stok masih belum sempurna, nah, di tanggal 10 November 2019 kami kelapangan.
"Kami menyusuri beberapa titik pantai di sungai Segah, ada 7 titik yang kami pantau saat itu, diantaranya Intake PDAM yang ada di Kelurahan Rinding dan Kelurahan Labanan, Drainase atau parutan rantau solok, dan Jetty PT. Berau Coal yang berada di Sambarata. Dari 7 titik itu, beberapanya ditemukan yang ekstrim, terutama yang ada di parutan rantau solok, sama drainase segarin," ungkapnya.
Lanjutnya, pada 12 November 2019 diadakan rapat dengan Pemerintah Kabupaten, Pihak Perusahaan, dan yang terkait lainnya. Pada intinya bahwa ditemukan air asam, yang diduga dilakukan oleh kebun sawit, yang memiliki tumpuk aliran ke sungai Segah.
"Kami mengecek bagian atas sungai Segah, ada water gate (pintu air) didalam pintu air memang asam, yang diduga bercampur dengan pupuk sawit, disaat hujan turun, otomatis debit air bertambah, karena daerah ini rawa, dengan kualitas air yang relatif buruk, rawa yang biasanya asam sehingga sampai ke perairan," jelasnya.
Sujadi juga menuturkan, kalau cuma rawa saja, kami sekiranya kalau tidak ada campur tangan kebun sawit ngga akan terjadi seperti itu, dan ini terakumulasi ketika terjadi sesuatu yang besar dalam percumbuan saat pengadukan yang bisa menyebabkan adanya kadar oksigen didasar bawah perairan sehingga naik keatas kekurangan kadar oksigen. Saat itu juga ikan-ikan yang tidak tahan terhadap perubahan itu ikan akan mati. Dengan adanya perubahan warna air Segah yang berdampak ikan mati, bahkan sempat ada warga yang merasa gatal-gatal saat dipakai sebagai sumber kehidupan, Wakil Bupati Berau
Agus Tamtomo langsung meninjau ke lokasi menggunakan speed boat milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau menuju di beberapa titik sungai yang tercemar dan melihat water gate atau pintu air bersama Direktur PDAM Tirta Segah, Saipul Rahman, Kabid Pengendalian dan Pencemaran Lingkungan, DLHK Berau, Rahmadi Pasaratan, awak media dan lainnya, Selasa (26/11/2019), kemarin.

Wakil Bupati Berau, Agus Tamtomo mengatakan, Tujuan utama kami yaitu, langsung meninjau air sungai yang tercemar di Segah, supaya tidak terjadi lagi dan kami bersama-sama ingin mengetahui penyebabnya, serta mencari solusi permanennya.
"Kami berharap kedepannya tidak terulang lagi, kami tidak mau seperti yang dulu-dulunya, hanya berharap airnya berubah baik, setelah itu selesai, tidak lama kemudian ada lagi, sama juga dilakukan seperti itu, kami tidak menginkan itu," tegasnya.
Agus Tamtomo menambakan, Hari ini (kemarin) kami kesini, memang kuat indikasinya adanya pembuangan mereka, yang langsung ke sungai dan menyebabkan pH di sungai mengalami penurunan.
"Mereka sudah melakukan penutupan di water gate, melalui tumpukan pasir dan memberikan kapur supaya mencegah pencemaran kebun sawit tidak terulang kembali mencemari sungai, dan sesuai dengan instruksi Bupati," katanya.
Namun Agus Tamtomo tampak geram, Katanya, yang mereka melakukan hanya sifatnya sementara, sebabnya tidak mungkin juga limbah ini tetap berada didalam perkebunan mereka, jika terjadi hujan dan sebagainya akan merusak sawit mereka.
Apalagi sesuai diskusi bersama teman-teman terkait teknis tadi, kita akan merekomendasikan mereka untuk membuat pengolahan limbah sebelum dibuang atau dilepas ke sungai, cuman terlebih dahulu pH-nya dinetralkan sebelum dilepas, ulasnya.
"Jika mereka setujui maka harus ada perubahan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), karena masalahnya air sungai kita itu arus bolak-balik, kalau cuma surut aja terus lempar kesini terus buang kelaut ngga ada masalah," ujarnya.
Disisi lain terkait masalah teknis, Direktur PDAM Tirta Segah, Saipul Rahman juga angkat bicara, menurutnya kondisi air perlahan mulai berangsur normal, hal tersebut dibuktikan saat di ukur melalui PH Meter, alat yang berfungsi mengukur pH suatu larutan.
"Saat kami menguji pH-nya, air menunjukkan angka pH 6,8 meningkat dari sebelumnya waktu lalu pH-nya 5, dan alhamdulillah selama 1-2 hari kedepannya sudah membaik," tandas Saipul yang beberapa lalu mengatakan, air sungai Segah sudah aman dikonsumsi.
Penulis: Fadli