
Oleh, Sumardin
Warga Kampung Dahor
KabarIkn.com,Balikpapan - Sangat disayangkan, project Perluasan kilang Internasional yang menelan biaya negara sangat besar ini tidak berdampak signifikan terhadap ekonomi warga sekitar kilang Pertamina Internasional, terutama warga kampung Dahor Balikpapan.
Bisa dibayangkan Kilang Internasional yang mengelola Migas terbesar diIndonesia dengan level Internasional, banyak bertengger masyarakat miskin pengangguran disekitarnya, tentu ini menjadi tanda tanya besar?
Keterlibatan masyarakat sekitar dalam perluasan pembangunan kilang sangat minim, padahal salah satu dampak positif yang diharapkan masyarakat pada tahap konstruksi perluasan kilang ini adalah terlibatnya masyarakat sekitar kilang sebagai pekerja,
Madin menyampaikan, bahwa ternyata bukan hanya tahap konstruksi masyarakat sekitar tidak dilibatkan, selesai tahap konstruksi juga masyarakat sekitar tidak dilibatkan, kalau kita lihat sarana penunjang perluasan kilang Pertamina yaitu Apartemen Amarilis Dahor, yang saat ini dikelola oleh PT. PATRA JASA, yang menikmati pembangunan apartemen itu hampir sebahagian besar semua dari masyarakat luar kampung Dahor,
Padahal pada saat pembangunan apartemen setinggi lebih dari 20 lantai itu, warga kampung Dahor sangat merasakan dampak negatifnya, mulai dari debu yang berterbangan menyerang rumah warga, kemacetan jalan sekitar karena banyaknya mobil truck pengangkut matreal dan bus pengangkut tenaga kerja yang parkir sembarangan dipinggir badan jalan, kemudian banjir pada saat hujan, bahkan bukan hanya banjir air tetapi banjir air bercampur tanah, suara bising dan polusi udara yang dapat mengganggu kesehatan warga, belum lagi ketika terjadi Insiden yang membuat cemas warga sekitar.
Anehnya setelah selesai dibangun akses masyarakat Kampung Dahor untuk bisa ikut bergabung bekerja mengelola apartemen tersebut tertutup, dan yang menikmati hasil pembangunan apartemen tersebut adalah warga yang jauh dari kampung Dahor. Ujarnya
Beliau menceritakan, Apartemen tersebut dipakai untuk pekerja BUMN PT. Pertamina dengan fasilitas yang sangat luar biasa mewah, sementara dibelakang apartemen Amarilis dan didepan apartemen Amarilis tersebut bertengger masyarakat miskin, setiap pagi dan sore warga kampung Dahor hanya bisa menonton melihat pegawai BUMN PT. Pertamina keluar dari apartemen dengan menggunakan fasilitas mobil mewah, dengan gajih puluhan bahkan ratusan juta rupiah dari negara.
Madin berharap, ada kepekaan sosial yang terbangun oleh pengelola Apartemen Amarilis Dahor agar kesenjangan tersebut tidak nampak terlihat, salah satu cara dengan melibatkan anak-anak warga kampung Dahor sebagai pekerja diaprtemen tersebut, sehingga ada secerca harapan bagi mereka agar dapat merasakan kue pembangunan yang direncang oleh pemerintah.
Bukankah tujuan pemerintah dengan pembangunan perluasan kilang ini, adalah untuk pemulihan ekonomi masyarakat Indonesia pasca pandemi covid 19, bagaimana mungkin hal itu terwujud jika masyarakat sekitar kilang masih bertengger masyarakat miskin. Ujarnya.
Beliau juga mengatakan, Harusnya manager Asset PT. Pertamina mampu membangun sinergitas dengan warga kampung Dahor, kalau diperhatikan selama ini kinerja manager Asset Pertamina Internasional Balikpapan, memang banyak yang harus dipertanyakan, karena Asset Pertamina seperti digunung pipa dan diarea tangki satu banyak yang terbengkalai, manager Asset seolah tidak peduli terhadap warga sekitar,
Padahal manager Asset itukan sangat besar gajihnya, stafnya aja bergajih puluhan juta dari uang negara, belum lagi pasilitas negara yang dinikmatinya mobil mewah, apartemen dan lainnya, tapi kerjanya ga jelas, masa sekelas manager Asset dikendalikan pemenang tender pengelola Apartemen kan aneh.
Madin menjelaskan, Setiap warga kampung Dahor bertanya tentang lowongan tenaga kerja mereka selalu mengatakan kami telah melibatkan warga sekitar, padahal banyak anak kampung Dahor yang ditolak bekerja disana,
Madin merasa heran seolah bertanya, masa iya sieh, strategi hubungan baik terhadap masyarakat, sekelas Manager Asset Pertamina Internasioanl tidak paham, kan terkesan aneh seolah ada yang janggal?.. Karena manager Asset yang harusnya mengatur PT. Patra Jasa selaku pemenang tender pengelola Apartemen PT. Pertamina, tampaknya terkesan terbalik malah manager Asset yang dikendalikan dan diatur oleh pemenang tender, tentu ini membingungkan.
Kami sebagai warga kampung Dahor tidak pernah minta apa-apa kok, kami sebagai warga sekitar kilang hanya meminta diprioritaskan agar anak-anak kami bisa dilibatkan berpartisipasi dalam menikmati hasil dari perluasan kilang Internasional ini, agar anak-anak kami tidak jadi pengangguran. Tutupnya.(*)
