[Valid RSS]

Upaya  Kasul Dukung  Target 1 BOPD dan 12 BSCFD

KabarIkn.com - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencanangkan target produksi 1 juta barel minyak per hari (BOPD) dan 12 miliar standar kaki kubik gas per hari (BSCFD) pada tahun 2030, sebagai tanda kebangkitan industri hulu migas Indonesia. Target tersebut bisa tercapai dengan komitmen bersama seluruh pemangku kepentingan, baik dalam maupun luar sektor energi. Perbaikan kebijakan yang dilakukan pemerintah seyogyanya didukung juga dengan upaya perbaikan kebijakan oleh pemangku kepentingan di sektor lainnya. 

Di tengah tantangan nasional menghadapi gelombang baru Covid -19, industri hulu migas selama periode Semester - I tahun 2021 berhasil menghasilkan penerimaan negara sekitar US$ 6,67 Miliar atau setara Rp. 96,7 Triliun. Penerimaan sebesar ini adalah 91,7% dari target yang dicanangkan dalam APBN 2021.  Tingginya penerimaan negara tidak lepas dari harga minyak yang berangsur membaik setelah sempat jatuh di tahun 2020 lalu. Harga ICP (Indonesian Crude Price) menunjukkan kenaikan, bahkan per Juni 2021 mencapai US$ 70,23/barel. Momentum ini akan kami gunakan secara maksimal untuk mendorong KKKS agar lebih agresif dalam merealisasikan kegiatan operasi.

Foto : Kepala SKK Migas , Dwi Soetjipto

Capaian lifting migas pada Semester I – 2021 rata-rata 1,64 juta barel setara minyak per hari (MBOEPD). Dari sejumlah itu, lifting minyak sebesar 667 ribu barel minyak per hari (BOPD), atau 95% dari target APBN yang ditetapkan untuk tahun ini sebesar 705 ribu BOPD, sedangkan lifting gas sebesar 5.430 MMSCFD dari target APBN sebesar 5.638 MMSCFD atau tercapai 96%.

Untuk mengejar capaian target lifting, Dwi menjelaskan SKK Migas dan KKKS sedang bahu membahu merealisasikan program Filling The Gap (FTG) yang  telah memberikan tambahan minyak rata-rata 1.900 BOPD.

Usaha lain yang dilakukan SKK Migas untuk mengejar capaian target adalah mengupayakan 3 (tiga) insentif hulu migas agar dapat disetujui oleh pemerintah. Ketiga insentif tersebut adalah tax holiday untuk pajak penghasilan di semua wilayah kerja migas, penyesuaian biaya pemanfaatan Kilang LNG Badak sebesar US$ 0,22 per MMBTU, dan dukungan dari kementerian yang membina industri pendukung hulu migas (industri baja, rig, jasa dan service) terhadap pembahasan pajak bagi usaha penunjang kegiatan hulu migas.

Realisasi aktivitas utama hulu migas sepanjang Semester - I 2021 telah dilakukan 186 pemboran sumur pengembangan, 309 kegiatan workover, dan 11.307 kegiatan  well service.  Sedangkan untuk proyek hulu migas 2021, sepajang Semester - I ini sebanyak 7 (tujuh) proyek sudah dapat direalisasi, dan memberikan tambahan produksi sebesar 10.710 BOPD dan gas sebesar 475 MMSCFD. Nilai investasi proyek-proyek tersebut mencapai US$ 1,4 miliar atau setara Rp. 20,9 triliun.

Sepanjang Semester – I tahun 2021, terdapat (tujuh) 7 sumur eksplorasi yang telah selesai di bor/tes (sumur tajak tahun 2021) dengan hasil gas discovery (Maha-02 dan Fanny-02), oil discovery (Hidayah-01 dan MSDE-01A) dan dry (Barakuda-1X, NSD-1 Exp Tail dan Plajawan Dalam). Total jumlah sumberdaya post drill (P50 atau 2C recoverable) sebesar 87.25 MMBOE dari Sumur Hidayah-01 sedangkan pre-drill P-50 Sumur Maha-02, Fanny-02 dan MSDE-01A adalah sebesar 154.71 MMBOE.  Saat ini sudah dilakukan pula survei seismik 2D sepanjang 1.917 km, survei seismik 3D sepanjang 673 km2, dan 67 kegiatan studi G&G

Secara aktif SKK Migas Kalsul tentunya mendukung dan mengambil peran sesuai tupoksinya dalam rangka merealisasikan target dan harapan SKK Migas Pusat. Dimana sebagai lembaga  terdepan, SKK Migas Kalsul memastikan perizinan-perizinan di daerah dapat terbit sesuai tata waktu yang ditentukan, pengadaan tanah, sosialisasi & koordinasi kepada stakeholder di daerah terlaksana sehingga operasioanl di lapangan dapat berjalan aman dan lancar.

Sebagai wilayah kerja (WK) yang sangat besar, SKK Migas Kalsul diharapkan pula mampu mendukung percepatan target tersebut, melalui dukungan pada Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) diwilayahnya, baik yang sedang eksplorasi, pengembangan dan produksi. Kendala-kendala, baik teknis dan non teknis menjadi pekerjaan rumah bagai SKK Migas Kalsul untuk dituntaskan agar KKKS dapat berjalan sesuai rencana kerja yang telah dibuatnya.

Foto : Kepala SKK Migas Kalsul , Azhari Idris

Diungkapkan Kepala SKK Migas Perwakilan Kalsul, Azhari Idris, saat ini ada 58 WK di wilayah Kalsul, yang tersebar di sembilan provinsi dengan lebih dari 40 kabupaten dan kota. Dimana 22 status eksploitasi dan 27 sisanya eksplorasi, beberapa dalam proses terminasi. 

Dipaparkan Azhari, realisasi pengeboran eksplorasi tahun 2020 ada sebanyak 36 sumur.

Sedangkan rencana pengeboran eksplorasi tahun 2021 ini, sebanyak 48 sumur, meningkat 33% dari realisasi 2020.  Untuk wilayah Kalsul sendiri ada 14 pengeboran sumur eksplorasi, saat ini telah terealisasi 3 sumur, dimana salah satunya adalah sumur Maha-2 di Wilayah Kerja West Ganal yang dioperasikan oleh Eni West Ganal Ltd. yang telah berhasil menemukan cadangan gas.

Mengenai area potensi penemuan cadangan besar di Kalsul, saat ini diperkirakan  ada 4 (empat) area potensial eksplorasi untuk penemuan besar (road to giant discovery) yaitu Tarakan Offshore, Kutai Offshore, Buton Offshore dan Makassar Strait Area.

Lanjutnya, lifting Minyak & Kondensat (status 31 Mei 2021): 74.357 BOPD atau 100,5% dari target APBN (74.015 BOPD).  Lifting/Salur Gas Bumi (status 31 Mei 2021): 1.572 MMSCFD atau 100,1% Dari target APBN (1.570 MMSCFD).  Kontribusi realisasi lifting Migas wilayah Kalsul terhadap Nasional adalah minyak & Kondensat: 11% sedangkan Gas Bumi: 29%.

“Wilayah Kalsul masih sangat signifikan memberi kontribusi minyak dan gas bagi kepentingan nasional. Hal inilah yang harus kita pertahankan dengan cara terus melakukan eskplorasi dengan dukungan banyak pihak” tandasnya.