
KabarIkn.com - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencanangkan target produksi 1 juta barel minyak per hari (BOPD) dan 12 miliar standar kaki kubik gas per hari (BSCFD) pada tahun 2030, sebagai tanda kebangkitan industri hulu migas Indonesia. Target tersebut bisa tercapai dengan komitmen bersama seluruh pemangku kepentingan, baik dalam maupun luar sektor energi. Perbaikan kebijakan yang dilakukan pemerintah seyogyanya didukung juga dengan upaya perbaikan kebijakan oleh pemangku kepentingan di sektor lainnya.
SKK Migas menetapkan 4 (empat) strategi pencapaian target 1 Juta BOPD dan 12 BSCFD di tahun 2030 yaitu Mempertahankan tingkat produksi existing yang tinggi. Transformasi sumberdaya ke produksi. Mempercepat penerapan Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR). Dan melakukan eksplorasi untuk penemuan besar.
Secara aktif SKK Migas Kalsul tentunya mendukung dan mengambil peran sesuai tupoksinya dalam rangka merealisasikan 4 (empat) strategi pencapaian dimaksud. Dimana sebagai lembaga terdepan, SKK Migas Kalsul memastikan perizinan-perizinan di daerah dapat terbit sesuai tata waktu yang ditentukan, pengadaan tanah, sosialisasi & koordinasi kepada stakeholder di daerah terlaksana sehingga operasioanl di lapangan dapat berjalan aman dan lancar.
Sebagai wilayah kerja (WK) yang sangat besar, SKK Migas Kalsul diharapkan pula mampu mendukung percepatan target tersebut, melalui dukungan pada Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) diwilayahnya, baik yang sedang eksplorasi, pengembangan dan produksi. Kendala-kendala, baik teknis dan non teknis menjadi pekerjaan rumah bagai SKK Migas Kalsul untuk dituntaskan agar KKKS dapat berjalan sesuai rencana kerja yang telah dibutaknya.

Diungkapkan Kepala SKK Migas Perwakilan Kalsul, Azhari Idris, saat ini ada 58 WK di wilayah Kalsul, 22 status eksploitasi dan 27 sisanya eksplorasi, beberapa dalam proses terminasi.
“Kami bekerja di sembilan provinsi dengan lebih dari 40 kabupaten dan kota. Jadi area yang besar dengan target pencapaian produksi tapi memang harus kejar untuk meniadakan kendala-kendala operasional”terang Azhari.
Dipaparkan Azhari, realisasi pengeboran eksplorasi tahun 2020 ada sebanyak 36 sumur.
Sedangkan rencana pengeboran eksplorasi tahun 2021 ini, sebanyak 48 sumur, meningkat 33% dari realisasi 2020. Untuk wilayah Kalsul sendiri ada 14 pengeboran sumur eksplorasi, saat ini telah terealisasi 3 sumur, dimana salah satunya adalah sumur Maha-2 di Wilayah Kerja West Ganal yang dioperasikan oleh Eni West Ganal Ltd. yang telah berhasil menemukan cadangan gas.
Mengenai area potensi penemuan cadangan besar di Kalsul, saat ini diperkirakan ada 4 (empat) area potensial eksplorasi untuk penemuan besar (road to giant discovery) yaitu Tarakan Offshore, Kutai Offshore, Buton Offshore dan Makassar Strait Area.
Lanjutnya, lifting Minyak & Kondensat (status 31 Mei 2021): 74.357 BOPD atau 100,5% dari target APBN (74.015 BOPD). Lifting/Salur Gas Bumi (status 31 Mei 2021): 1.572 MMSCFD atau 100,1% Dari target APBN (1.570 MMSCFD). Kontribusi realisasi lifting Migas wilayah Kalsul terhadap Nasional (status 31 Mei 2021) adalah minyak & Kondensat: 11% sedangkan Gas Bumi: 29%.
“Wilayah Kalsul masih sangat signifikan memberi kontribusi minyak dan gas bagi kepentingan nasional. Hal inilah yang harus kita pertahankan dengan cara terus melakukan eskplorasi dengan dukungan banyak pihak” tandasnya.(*)